Selasa, 26 Agustus 2014

Dear You...



Selain kuliah, bangunan kesadaran gue yang lain terbentuk secara sporadis di dalam sebuah mikrobisnis bertajuk kafe, Oldish Café. Bisnis kecil-kecilan hasil perkawinan ideologis antara gue dan temen gue telah melahirkan banyak putra-putri hidayah (Insya Allah). Bisnis yang tadinya didirikan pure untuk tujuan mencari laba bagi para pemiliknya justru menghadirkan pintu kesadaran yang tak berkesudahan. Hal non-profit pertama yang gue dapat adalah pentingnya berbagi. Ya, berbagi itu penting, di dalam perspektif keilmuan ekonomi konvensional, efisiensi merupakan jalan tol bagi sebuah bisnis untuk mencapai kemakmuran. Hal itu gue yakini selama bertahun-tahun, lebih-lebih setelah gue kuliah di Fakultas Ekonomi, mayoritas dosen-dosen gue selalu nakut-nakutin tentang bahayanya biaya yang kegedean atau wanti-wanti soal potensial loss. Semua hal itu kemudian membentuk pondasi kesadaran paling primitive gue bahwa efisien itu fardlu ain. Dunia berubah, kenyataan bergeser, realitas tentang efisien mengalami kiamat. Bisnis bukan semata berjalan dalam konsep berpikir yang demikian, Odsih, bayi lucu hasil perkawinan ideologis itu nyadarin gue. Bahwa sebenernya Laba-Rugi itu Cuma artifisial, mereka gak benar-benar ‘ada’. Dualisme keduanya muncul dikarenakan ketidakmampuan dan keengganan kita untuk sampai pada realitas paling dasar tentang sebuah entitas. Kita sibuk dipacu untuk mengejar Laba dan mati-matian untuk menghindari Rugi, kemudian melupakan esensi dari sebuah entitas bukanlah keduanya. Tiap-tiap entitas, apapun itu, sebenernya seperti kita, keberadaannya di dunia ini memiliki tujuan, dia memiliki jalannya sendiri. Tujuan mereka itu adalah hidup, going concern, dan kehidupannya itu ‘ada’ untuk menopang kehidupan entitas yang lain di dalam ekosistem bisnisnya. Sebuah kafe, ibaratnya seekor Ikan yang berada di dalam ekosistem laut, dia ‘ada’ untuk dirinya sekaligus untuk lingkunganya, menjaga rantai makanan dan mempertahankan keseimbangan ekosistemnya. Demikian juga bisnis, di dalam sebuah ekosistem culinary lifestyle *Tsaaah* Oldish café hanyalah sebuah anggota ekosistem, yang keberadaannya dengan satu dan lain cara adalah untuk menopang keberadaan entitas-entitas lain yang secara simultan juga ikut menopangnya *gue bingung*. Maka demikian, karena entitas memiliki tujuannya sendiri, maka berbagi dan membantu justru adalah salah satu cara bagi entitas apapun bahkan menurut gue, untuk dapat mempertahankan eksistensinya. Elu gak bakal bisa hidup kalo gak makan dari makhluk yang lain, entitas juga demikian, mereka ‘makan’, mereka mengkonsumsi energy, waktu, dan tenaga. Apabila ada entitas yang mencoba terlalu membatasi kenyataan ini, perlahan tapi pasti mereka akan sakit. Pengeluaran biaya, untuk tujuan apapun sebenarnya adalah suatu bentuk siklus hidup, maka hal-hal seperti sedekah, CSR, tepo-seliro, menurut gue merupakan sebuah keharusan justru. Bukan sebagai bentuk caper sih ya biar dagangan laku tapi lebih seperti fitrah, semacam takdir yang gak bisa dihindari. Bahwa berbagi memang keniscayaan yang pasti dijalani, apabila ada entitas yang tidak demikian maka menurut gue, ekosistem akan memilihkan jalan sendiri buat mereka. Oldish juga membuka pintu buat gue ke dalam kesadaran yang lain, tentang nikmat dan syukur. Banyak dari kita yang tiap hari ngeluh soal kerjaan yang sebenernya ringan, ngeluh soal hidup yang sebenernya ga susah-susah amat, ngeluh tentang gaji yang gak banyak. Gue punya beberapa crew, yang kerja bareng gue. Mereka ini loyal luar biasa, cekatan, dan ah banyak deh. Nikmat terbesar buat gue sebagai co-owner *tsaaah* adalah mereka. Alhamdulillah, Tuhan melalui market telah mempertemukan gue dengan mereka. Kenapa gue girang?. Jelas, karena crew gue adalah orang-orang yang sekalipun gak bisa dipandang pintar dalam konsesnsus lingkungan akademisi, tapi kesediaan mereka buat kerja bersama gue dalam kondisi entitas yang kempis-kempis-kembang merupakan berkah gak berhingga. Mereka mau kerja dalam jam kerja yang panjang, capek, dan ngantuk dengan bayaran yang gak bisa dibilang banyak tapi dituntut tetap amanah. Merek-mereka inilah yang mengantarkan gue untuk lebih banyak mengucap sykur, gimana nggak, sebagian dari kita masih banyak yang ngeluh tentang hal-hal remeh, tapi orang-orang ini, crew yang lagi gue hadapin punya masalah yang bikin kita malu kalo kita ngeluh. Masalah orang-orang ini lebih kompleks, jauh lebih rumit dari pacar yang mutusin elu padahal tiap hari bilang sayang, lebih nyebelin dari Polisi yang dalihnya nilang tapi minta uang, lebih bikin galau dari beli hape baru atau sepatu baru, lebih miris dari gebetan yang tiba-tiba jadian sama temen sendiri. Sorry, gue gak bisa cerita detilnya, tapi sungguh, gue jadi mikir kalo kondisi kehidupan merekalah yang mendorong mereka bekerja seadanya, termasuk di Oldish, kondisi mereka yang demikian toh justru gak pernah mereka hadapin dengan keluhan, well, coba kalo kita, gue, elu, kalian. Mau makan siang aja ngeluh, duit habis buat seneng-seneng ngeluh, kerja lembur dikit ngeluh, terlalu banyak waktu yang gue, elu dan kalian semua habisin buat ngeluh, sementara ada jauh lebih banyak yang lebih pantas untuk disyukuri. Bersyukurlah. Bukannya kata Tuhan, akan ditambah nikmatNya apabila kita banyak-banyak bersyukur. Bersyukurlah.

Semua hal ini, seaneh dan seenggak nyaman apapun itu gue bersyukur. Pake banget. Sekalipun gaji gue gak sebanyak temen-temen seangkatan, tapi lingkungan gue kasih gue kado kesadaran yang gak habis-habis, bikin tiap hari mikir ‘Kok bisa ya?.’. Bukankah Imam Ghazali pernah ngomong “Hikmah adalah harta terbesar kaum muslim, hikmah bisa kalian temukan dimanapun, bahkan di dalam tong berisi ular (mulut orang-orang munafik).” Gue dapat itu tiap hari tanpa harus masuk ke dalam tong yang isinya ular.

 Omong-omong diksi ‘gue’ ini lebih enak dipake daripada ‘aku’ atau ‘saya’. Diksi ‘gue’ maqamnya nyaris sama kaya Jancuk rasanya. Wakakakakaka. Di dalam ‘gue’ seolah semua nuansa kalimat bisa masuk, obrolan serius nuansa santé tetep dapet dan itu asik, obrolan santé tetep gak kehilangan esensi isinya. Mirip Jancuk, kita ngomong serius dengan Jancuk, maka feel nya dapet dan makin mantep, ngobrol guyon dengan Jancuk, keakrabannya gak ilang, makin sedep malah. Ajaib yeee.. J

0 komentar:

Posting Komentar