Selain kuliah, bangunan
kesadaran gue yang lain terbentuk secara sporadis di dalam sebuah mikrobisnis
bertajuk kafe, Oldish Café. Bisnis
kecil-kecilan hasil perkawinan ideologis antara gue dan temen gue telah
melahirkan banyak putra-putri hidayah (Insya Allah). Bisnis yang tadinya
didirikan pure untuk tujuan mencari
laba bagi para pemiliknya justru menghadirkan pintu kesadaran yang tak
berkesudahan. Hal non-profit pertama yang gue dapat adalah pentingnya berbagi.
Ya, berbagi itu penting, di dalam perspektif keilmuan ekonomi konvensional,
efisiensi merupakan jalan tol bagi sebuah bisnis untuk mencapai kemakmuran. Hal
itu gue yakini selama bertahun-tahun, lebih-lebih setelah gue kuliah di
Fakultas Ekonomi, mayoritas dosen-dosen gue selalu nakut-nakutin tentang
bahayanya biaya yang kegedean atau wanti-wanti soal potensial loss. Semua hal itu kemudian membentuk pondasi kesadaran
paling primitive gue bahwa efisien itu fardlu
ain. Dunia berubah, kenyataan bergeser, realitas tentang efisien mengalami
kiamat. Bisnis bukan semata berjalan dalam konsep berpikir yang demikian, Odsih, bayi lucu hasil perkawinan
ideologis itu nyadarin gue. Bahwa sebenernya Laba-Rugi itu Cuma artifisial,
mereka gak benar-benar ‘ada’. Dualisme keduanya muncul dikarenakan
ketidakmampuan dan keengganan kita untuk sampai pada realitas paling dasar
tentang sebuah entitas. Kita sibuk dipacu untuk mengejar Laba dan mati-matian
untuk menghindari Rugi, kemudian melupakan esensi dari sebuah entitas bukanlah
keduanya. Tiap-tiap entitas, apapun itu, sebenernya seperti kita, keberadaannya
di dunia ini memiliki tujuan, dia memiliki jalannya sendiri. Tujuan mereka itu
adalah hidup, going concern, dan
kehidupannya itu ‘ada’ untuk menopang kehidupan entitas yang lain di dalam
ekosistem bisnisnya. Sebuah kafe, ibaratnya seekor Ikan yang berada di dalam
ekosistem laut, dia ‘ada’ untuk dirinya sekaligus untuk lingkunganya, menjaga
rantai makanan dan mempertahankan keseimbangan ekosistemnya. Demikian juga
bisnis, di dalam sebuah ekosistem culinary
lifestyle *Tsaaah* Oldish café
hanyalah sebuah anggota ekosistem, yang keberadaannya dengan satu dan lain cara
adalah untuk menopang keberadaan entitas-entitas lain yang secara simultan juga
ikut menopangnya *gue bingung*. Maka demikian, karena entitas memiliki
tujuannya sendiri, maka berbagi dan membantu justru adalah salah satu cara bagi
entitas apapun bahkan menurut gue, untuk dapat mempertahankan eksistensinya.
Elu gak bakal bisa hidup kalo gak makan dari makhluk yang lain, entitas juga
demikian, mereka ‘makan’, mereka mengkonsumsi energy, waktu, dan tenaga.
Apabila ada entitas yang mencoba terlalu membatasi kenyataan ini, perlahan tapi
pasti mereka akan sakit. Pengeluaran biaya, untuk tujuan apapun sebenarnya
adalah suatu bentuk siklus hidup, maka hal-hal seperti sedekah, CSR, tepo-seliro, menurut gue merupakan
sebuah keharusan justru. Bukan sebagai bentuk caper sih ya biar dagangan laku
tapi lebih seperti fitrah, semacam
takdir yang gak bisa dihindari. Bahwa berbagi memang keniscayaan yang pasti
dijalani, apabila ada entitas yang tidak demikian maka menurut gue, ekosistem
akan memilihkan jalan sendiri buat mereka. Oldish
juga membuka pintu buat gue ke dalam kesadaran yang lain, tentang nikmat
dan syukur. Banyak dari kita yang tiap hari ngeluh soal kerjaan yang sebenernya
ringan, ngeluh soal hidup yang sebenernya ga susah-susah amat, ngeluh tentang
gaji yang gak banyak. Gue punya beberapa crew,
yang kerja bareng gue. Mereka ini loyal luar biasa, cekatan, dan ah banyak deh.
Nikmat terbesar buat gue sebagai co-owner
*tsaaah* adalah mereka. Alhamdulillah, Tuhan melalui market telah mempertemukan gue dengan mereka. Kenapa gue girang?.
Jelas, karena crew gue adalah
orang-orang yang sekalipun gak bisa dipandang pintar dalam konsesnsus
lingkungan akademisi, tapi kesediaan mereka buat kerja bersama gue dalam
kondisi entitas yang kempis-kempis-kembang merupakan berkah gak berhingga.
Mereka mau kerja dalam jam kerja yang panjang, capek, dan ngantuk dengan
bayaran yang gak bisa dibilang banyak tapi dituntut tetap amanah. Merek-mereka
inilah yang mengantarkan gue untuk lebih banyak mengucap sykur, gimana nggak,
sebagian dari kita masih banyak yang ngeluh tentang hal-hal remeh, tapi
orang-orang ini, crew yang lagi gue
hadapin punya masalah yang bikin kita malu kalo kita ngeluh. Masalah
orang-orang ini lebih kompleks, jauh lebih rumit dari pacar yang mutusin elu
padahal tiap hari bilang sayang, lebih nyebelin dari Polisi yang dalihnya
nilang tapi minta uang, lebih bikin galau dari beli hape baru atau sepatu baru,
lebih miris dari gebetan yang tiba-tiba jadian sama temen sendiri. Sorry, gue
gak bisa cerita detilnya, tapi sungguh, gue jadi mikir kalo kondisi kehidupan
merekalah yang mendorong mereka bekerja seadanya, termasuk di Oldish, kondisi mereka yang demikian toh
justru gak pernah mereka hadapin dengan keluhan, well, coba kalo kita, gue, elu, kalian. Mau makan siang aja ngeluh,
duit habis buat seneng-seneng ngeluh, kerja lembur dikit ngeluh, terlalu banyak
waktu yang gue, elu dan kalian semua habisin buat ngeluh, sementara ada jauh
lebih banyak yang lebih pantas untuk disyukuri. Bersyukurlah. Bukannya kata
Tuhan, akan ditambah nikmatNya apabila kita banyak-banyak bersyukur.
Bersyukurlah.
Semua
hal ini, seaneh dan seenggak nyaman apapun itu gue bersyukur. Pake banget.
Sekalipun gaji gue gak sebanyak temen-temen seangkatan, tapi lingkungan gue
kasih gue kado kesadaran yang gak habis-habis, bikin tiap hari mikir ‘Kok bisa
ya?.’. Bukankah Imam Ghazali pernah ngomong “Hikmah adalah harta terbesar kaum
muslim, hikmah bisa kalian temukan dimanapun, bahkan di dalam tong berisi ular
(mulut orang-orang munafik).” Gue dapat itu tiap hari tanpa harus masuk ke
dalam tong yang isinya ular.
Omong-omong diksi ‘gue’ ini lebih enak dipake
daripada ‘aku’ atau ‘saya’. Diksi ‘gue’ maqamnya nyaris sama kaya Jancuk
rasanya. Wakakakakaka. Di dalam ‘gue’ seolah semua nuansa kalimat bisa masuk,
obrolan serius nuansa santé tetep dapet dan itu asik, obrolan santé tetep gak
kehilangan esensi isinya. Mirip Jancuk, kita ngomong serius dengan Jancuk, maka
feel nya dapet dan makin mantep,
ngobrol guyon dengan Jancuk,
keakrabannya gak ilang, makin sedep malah. Ajaib yeee.. J






0 komentar:
Posting Komentar