Kalo
kemarin gue udah ngegombal soal syukur, nikmat dan berbagi. Sekarang gue mau
ngegombal lagi soal yang lain. Soal kesatuan. Unity. Tentang integrasi dari segala-galanya *sok*. Oldish, seperti yang udah gue certain
kemarin, udah jadi pintu ajaib doraemon bagi gue. Dia bisa bawa gue kepada
kesadaran apapun yang gue mau. Membawa gue pada bentuk nikmat manapun yang gue
pengen cicip, dan kali ini Oldish membawa
gue kepada wilayah kesadaran yang lain lagi. Tentang ‘kita’.
Sering
gue mikir kalau Oldish itu punya gue,
kalau harta gue itu punya gue, kalau gue itu ya gue, punya gue, orang lain gak
perlu ikut-ikutan. Kalian juga sering gak ngerasa gitu?. Ngerasa yang paling
‘gue’. Nah, beberapa hari ini gue kepikiran kalau itu semua keliru. Gue ngerasa
kalau ternyata bahkan kita ini bukan siapa-siapa dan yang kita anggap milik
kita itu sebenernya bukan. Meminjam kata-kata Dosen gue, we just nobody.
Alkisah,
Oldish yang lagi gue usahain biar
cepat gede tapi disapih ini lagi ngalamin puncak kegalauan omzet yang cukup
panjang (broo dalam skala industri mikro, 2 bulan itu bagai 2 tahun, belum lagi
kalau telepon kalian berdering panggilan dari Debt Collector itu lebih bikin deg-degan daripada nunggu jawaban
gebetan yang kalian tembak. Beneran.). Diantara puncak kegalauan ini, dengan
segala daya yang sudah temen gue dan gue lakuin kita nyerah, ya! NYERAH. Kaya
pasangan ABG labil yang mau ngebuang bayi hasil zina mereka, seperti itu kami
ingin memperlakukan Oldish. Meninggalkannya
begitu saja, membiarkan pasar dengan segala kehendaknya memperlakukannya.
Langkah kami gontai, pintu ruko yang
biasanya kami tarik dengan semangat tak demikian lagi (sebelumnya seret,
sekarang udah dikasih oli, udah karena itu). Jam-jam panjang yang kami penuhi
demi pertumbuhan omzet yang positif tak lagi berlaku. Pasar terlalu tangguh.
Namun, ‘pengabaian’ kami kepada Oldish tak
berjalan linier, Oldish seolah
memiliki jalannya sendiri, pasar berkehendak lain. Sudah gue cerita soal crew gue sebelumnya kan?. Kami pernah
bekerja tanpa awak selama sebulan, dalam kondisi yang
kempis-kempis-kempis-kembang itu doi datang, menawarkan diri. “Gue mau mas
kerja di sini, gue bantu.” Dan bener dia “bantu”, pengalaman bertahun-tahun di
bidang life style culinary itu dia
jual murah kepada kami. Temen gue dan gue yang gak melihat kesempatan yang
lebih baik dari itu memutuskan menerimanya. Hm, rasanya ibarat kalian cowok mediocre di kampus tapi tiba-tiba Raline
Shah ngajak pacaran, kaya gitu rasanya. Bisnis ngesot perlahan, laba bersih
tetap minus, namun omzet mengalami perubahan. Oldish nampak lebih bergairah, kami turut bahagia. Dan seperti kata
Rosulullah “Sembilan dari sepuluh jalan rezeki adalah berniaga.” Satu pintu
rezeki sedang terbuka, ada satu lagi yang sedang menunggu dibuka kuncinya.
Komunitas orang motor tak diminta datang mmenawarkan diri memberi bantuan entah
wacana entah keseriusan, kami hanya berserah pada Tangan-Tangan itu. Bisnis mengambil bargain option kali ini. Aneh bin Absurd.
Absurd guys, beneran. Sementara Om Mario Teguh ngomong
“Bekerjalah dengan sungguh-sungguh, dengan jujur dan bla bla.” , Bang Rene
sampein “Passion akan menjadikan kalian blab la bla.” Dan Pak Dahlan berpesan
“Kerja Kerja Kerja.” . Turning Point kami (Insya Allah) justru muncul di tikungan
paling tajam, di titik paling rawan, di momen yang paling enggan. Aneh. Dari situ
gue mikir kalau sebenernya apa yang temen gue dan gue lakukan ini hanyalah
sekedar ngikutin arus, ngikutin fitrah.
Sebuah consensus semesta nan gaib yang gue gak sanggup pahami. Gue nggak paham,
banyak usaha pemasaran dan perubahan menu dan harga udah kami lakukan tapi
momen yang ditunggu gak datang. Banyak hal yang temen gue udah usahakan dan gak
pernah kami sanggup memilah mana yang paling efektif untuk membawa Oldish kepada kondisi yang lebih
baik, dan ditengah keengganan kami
diantara segala ketidaktahuan yang sulit kami pahami ini, justru di titik
kritis dimana kami nyaris tidak melakukan apa-apa perubahan mulai datang
(semoga). Segala fenomena ‘gaib’ ini bikin gue jadi sadar bahwa di dalam
segitiga absurd ini, kami-Oldish-pasar, kami yang konon katanya owner ini ternyata bukan siapa-siapa.
Apanya yang owner?, sementara waktu,
tenaga, dan pikiran kami justru yang tercurah kepada Oldish, bukan sebaliknya. Kami yang justru telah dimiliki olehnya.
Oldish, merupakan entitas yang independen, di dalam lingkup
ekosistemnya, gue dan temen gue hanya jadi salah satu penggerak yang hidup
bersama di dalam ekosistemnya. Sama sekali bukan yang memilikinya. Pasarlah
pemiliknya. Kami hanya berperan, menjalani fitrah
kami sebagaimana mestinya, gak lebih, dan ekosistem memiliki jalan
ceritanya sendiri, bergerak sesuai kehendakNya.
Di
dalam sebuah ekosistem kolam yang di dalamnya ada Ikan, Udang, Lumut, dan Batu
bisa kalian tentukan siapa memiliki siapa?. Apakah Ikan memiliki kolam?,
sementara tanpa kolam ikan mati. Apakah lumut memiliki ikan?, sementara ikan
adalah organism yang memakannya. Nah, hal inilah yang kemudian juga membuat gue
sadar bahwa di dalam semesta yang luasnya teramat ini, gue bukan siapa-siapa,
kita ini bukan siapa-siapa. Kita Cuma entitas kecil yang kemudian secara
bersama-sama dan dengan cara-Nya membentuk sebuah kesatuan Masyarakat, Bangsa,
Negara dll. Apakah Masyarakat memiliki gue?, apakah Negara memiliki gue?, atau
gue yang memiliki mereka?. Menurut gue, ya gue ini bukanlah siapa-siapa, bukan
apa, gue hanya bagian kecil dari semua itu yang sedang memenuhi perannya,
bergerak dan hidup sesuai kodratNya. Gue Cuma bagian dari Kita, yang tanpa gue
pun Kita akan tetap ada *bingung deh* Kepribadian ini, karakter kita ini, hanya
sebatas refleksi dari ribuan karakter yang hidup bersama kita. Harta yang
ditangan kita, Cuma seperti mobil-mobil di jalan raya yang lalu lalang
sesukanya dan kita adalah jalan yang dilaluinya, adakah jalan raya menjadi
pemilik mobil yang melintasi mereka?.
Oke,
demikian gombalan gue, Hanya Dia Yang
Maha Tahu. J













