Selasa, 26 Agustus 2014

Dear you (part 2)



Kalo kemarin gue udah ngegombal soal syukur, nikmat dan berbagi. Sekarang gue mau ngegombal lagi soal yang lain. Soal kesatuan. Unity. Tentang integrasi dari segala-galanya *sok*. Oldish, seperti yang udah gue certain kemarin, udah jadi pintu ajaib doraemon bagi gue. Dia bisa bawa gue kepada kesadaran apapun yang gue mau. Membawa gue pada bentuk nikmat manapun yang gue pengen cicip, dan kali ini Oldish membawa gue kepada wilayah kesadaran yang lain lagi. Tentang ‘kita’.
Sering gue mikir kalau Oldish itu punya gue, kalau harta gue itu punya gue, kalau gue itu ya gue, punya gue, orang lain gak perlu ikut-ikutan. Kalian juga sering gak ngerasa gitu?. Ngerasa yang paling ‘gue’. Nah, beberapa hari ini gue kepikiran kalau itu semua keliru. Gue ngerasa kalau ternyata bahkan kita ini bukan siapa-siapa dan yang kita anggap milik kita itu sebenernya bukan. Meminjam kata-kata Dosen gue, we just nobody.

Alkisah, Oldish yang lagi gue usahain biar cepat gede tapi disapih ini lagi ngalamin puncak kegalauan omzet yang cukup panjang (broo dalam skala industri mikro, 2 bulan itu bagai 2 tahun, belum lagi kalau telepon kalian berdering panggilan dari Debt Collector itu lebih bikin deg-degan daripada nunggu jawaban gebetan yang kalian tembak. Beneran.). Diantara puncak kegalauan ini, dengan segala daya yang sudah temen gue dan gue lakuin kita nyerah, ya! NYERAH. Kaya pasangan ABG labil yang mau ngebuang bayi hasil zina mereka, seperti itu kami ingin memperlakukan Oldish. Meninggalkannya begitu saja, membiarkan pasar dengan segala kehendaknya memperlakukannya. Langkah kami  gontai, pintu ruko yang biasanya kami tarik dengan semangat tak demikian lagi (sebelumnya seret, sekarang udah dikasih oli, udah karena itu). Jam-jam panjang yang kami penuhi demi pertumbuhan omzet yang positif tak lagi berlaku. Pasar terlalu tangguh. Namun, ‘pengabaian’ kami kepada Oldish tak berjalan linier, Oldish seolah memiliki jalannya sendiri, pasar berkehendak lain. Sudah gue cerita soal crew gue sebelumnya kan?. Kami pernah bekerja tanpa awak selama sebulan, dalam kondisi yang kempis-kempis-kempis-kembang itu doi datang, menawarkan diri. “Gue mau mas kerja di sini, gue bantu.” Dan bener dia “bantu”, pengalaman bertahun-tahun di bidang life style culinary itu dia jual murah kepada kami. Temen gue dan gue yang gak melihat kesempatan yang lebih baik dari itu memutuskan menerimanya. Hm, rasanya ibarat kalian cowok mediocre di kampus tapi tiba-tiba Raline Shah ngajak pacaran, kaya gitu rasanya. Bisnis ngesot perlahan, laba bersih tetap minus, namun omzet mengalami perubahan. Oldish nampak lebih bergairah, kami turut bahagia. Dan seperti kata Rosulullah “Sembilan dari sepuluh jalan rezeki adalah berniaga.” Satu pintu rezeki sedang terbuka, ada satu lagi yang sedang menunggu dibuka kuncinya. Komunitas orang motor tak diminta datang mmenawarkan diri memberi bantuan entah wacana entah keseriusan, kami hanya berserah pada Tangan-Tangan itu. Bisnis mengambil bargain option kali ini. Aneh bin Absurd.

Absurd guys, beneran. Sementara Om Mario Teguh ngomong “Bekerjalah dengan sungguh-sungguh, dengan jujur dan bla bla.” , Bang Rene sampein “Passion akan menjadikan kalian blab la bla.” Dan Pak Dahlan berpesan “Kerja Kerja Kerja.” . Turning Point  kami (Insya Allah) justru muncul di tikungan paling tajam, di titik paling rawan, di momen yang paling enggan. Aneh. Dari situ gue mikir kalau sebenernya apa yang temen gue dan gue lakukan ini hanyalah sekedar ngikutin arus, ngikutin fitrah. Sebuah consensus semesta nan gaib yang gue gak sanggup pahami. Gue nggak paham, banyak usaha pemasaran dan perubahan menu dan harga udah kami lakukan tapi momen yang ditunggu gak datang. Banyak hal yang temen gue udah usahakan dan gak pernah kami sanggup memilah mana yang paling efektif untuk membawa Oldish kepada kondisi yang lebih baik,  dan ditengah keengganan kami diantara segala ketidaktahuan yang sulit kami pahami ini, justru di titik kritis dimana kami nyaris tidak melakukan apa-apa perubahan mulai datang (semoga). Segala fenomena ‘gaib’ ini bikin gue jadi sadar bahwa di dalam segitiga absurd ini, kami-Oldish-pasar, kami yang konon katanya owner ini ternyata bukan siapa-siapa. Apanya yang owner?, sementara waktu, tenaga, dan pikiran kami justru yang tercurah kepada Oldish, bukan sebaliknya. Kami yang justru telah dimiliki olehnya. 

Oldish, merupakan entitas yang independen, di dalam lingkup ekosistemnya, gue dan temen gue hanya jadi salah satu penggerak yang hidup bersama di dalam ekosistemnya. Sama sekali bukan yang memilikinya. Pasarlah pemiliknya. Kami hanya berperan, menjalani fitrah kami sebagaimana mestinya, gak lebih, dan ekosistem memiliki jalan ceritanya sendiri, bergerak sesuai kehendakNya.
Di dalam sebuah ekosistem kolam yang di dalamnya ada Ikan, Udang, Lumut, dan Batu bisa kalian tentukan siapa memiliki siapa?. Apakah Ikan memiliki kolam?, sementara tanpa kolam ikan mati. Apakah lumut memiliki ikan?, sementara ikan adalah organism yang memakannya. Nah, hal inilah yang kemudian juga membuat gue sadar bahwa di dalam semesta yang luasnya teramat ini, gue bukan siapa-siapa, kita ini bukan siapa-siapa. Kita Cuma entitas kecil yang kemudian secara bersama-sama dan dengan cara-Nya membentuk sebuah kesatuan Masyarakat, Bangsa, Negara dll. Apakah Masyarakat memiliki gue?, apakah Negara memiliki gue?, atau gue yang memiliki mereka?. Menurut gue, ya gue ini bukanlah siapa-siapa, bukan apa, gue hanya bagian kecil dari semua itu yang sedang memenuhi perannya, bergerak dan hidup sesuai kodratNya. Gue Cuma bagian dari Kita, yang tanpa gue pun Kita akan tetap ada *bingung deh* Kepribadian ini, karakter kita ini, hanya sebatas refleksi dari ribuan karakter yang hidup bersama kita. Harta yang ditangan kita, Cuma seperti mobil-mobil di jalan raya yang lalu lalang sesukanya dan kita adalah jalan yang dilaluinya, adakah jalan raya menjadi pemilik mobil yang melintasi mereka?.
Oke, demikian gombalan gue, Hanya Dia Yang Maha Tahu. J

Dear You...



Selain kuliah, bangunan kesadaran gue yang lain terbentuk secara sporadis di dalam sebuah mikrobisnis bertajuk kafe, Oldish CafĂ©. Bisnis kecil-kecilan hasil perkawinan ideologis antara gue dan temen gue telah melahirkan banyak putra-putri hidayah (Insya Allah). Bisnis yang tadinya didirikan pure untuk tujuan mencari laba bagi para pemiliknya justru menghadirkan pintu kesadaran yang tak berkesudahan. Hal non-profit pertama yang gue dapat adalah pentingnya berbagi. Ya, berbagi itu penting, di dalam perspektif keilmuan ekonomi konvensional, efisiensi merupakan jalan tol bagi sebuah bisnis untuk mencapai kemakmuran. Hal itu gue yakini selama bertahun-tahun, lebih-lebih setelah gue kuliah di Fakultas Ekonomi, mayoritas dosen-dosen gue selalu nakut-nakutin tentang bahayanya biaya yang kegedean atau wanti-wanti soal potensial loss. Semua hal itu kemudian membentuk pondasi kesadaran paling primitive gue bahwa efisien itu fardlu ain. Dunia berubah, kenyataan bergeser, realitas tentang efisien mengalami kiamat. Bisnis bukan semata berjalan dalam konsep berpikir yang demikian, Odsih, bayi lucu hasil perkawinan ideologis itu nyadarin gue. Bahwa sebenernya Laba-Rugi itu Cuma artifisial, mereka gak benar-benar ‘ada’. Dualisme keduanya muncul dikarenakan ketidakmampuan dan keengganan kita untuk sampai pada realitas paling dasar tentang sebuah entitas. Kita sibuk dipacu untuk mengejar Laba dan mati-matian untuk menghindari Rugi, kemudian melupakan esensi dari sebuah entitas bukanlah keduanya. Tiap-tiap entitas, apapun itu, sebenernya seperti kita, keberadaannya di dunia ini memiliki tujuan, dia memiliki jalannya sendiri. Tujuan mereka itu adalah hidup, going concern, dan kehidupannya itu ‘ada’ untuk menopang kehidupan entitas yang lain di dalam ekosistem bisnisnya. Sebuah kafe, ibaratnya seekor Ikan yang berada di dalam ekosistem laut, dia ‘ada’ untuk dirinya sekaligus untuk lingkunganya, menjaga rantai makanan dan mempertahankan keseimbangan ekosistemnya. Demikian juga bisnis, di dalam sebuah ekosistem culinary lifestyle *Tsaaah* Oldish cafĂ© hanyalah sebuah anggota ekosistem, yang keberadaannya dengan satu dan lain cara adalah untuk menopang keberadaan entitas-entitas lain yang secara simultan juga ikut menopangnya *gue bingung*. Maka demikian, karena entitas memiliki tujuannya sendiri, maka berbagi dan membantu justru adalah salah satu cara bagi entitas apapun bahkan menurut gue, untuk dapat mempertahankan eksistensinya. Elu gak bakal bisa hidup kalo gak makan dari makhluk yang lain, entitas juga demikian, mereka ‘makan’, mereka mengkonsumsi energy, waktu, dan tenaga. Apabila ada entitas yang mencoba terlalu membatasi kenyataan ini, perlahan tapi pasti mereka akan sakit. Pengeluaran biaya, untuk tujuan apapun sebenarnya adalah suatu bentuk siklus hidup, maka hal-hal seperti sedekah, CSR, tepo-seliro, menurut gue merupakan sebuah keharusan justru. Bukan sebagai bentuk caper sih ya biar dagangan laku tapi lebih seperti fitrah, semacam takdir yang gak bisa dihindari. Bahwa berbagi memang keniscayaan yang pasti dijalani, apabila ada entitas yang tidak demikian maka menurut gue, ekosistem akan memilihkan jalan sendiri buat mereka. Oldish juga membuka pintu buat gue ke dalam kesadaran yang lain, tentang nikmat dan syukur. Banyak dari kita yang tiap hari ngeluh soal kerjaan yang sebenernya ringan, ngeluh soal hidup yang sebenernya ga susah-susah amat, ngeluh tentang gaji yang gak banyak. Gue punya beberapa crew, yang kerja bareng gue. Mereka ini loyal luar biasa, cekatan, dan ah banyak deh. Nikmat terbesar buat gue sebagai co-owner *tsaaah* adalah mereka. Alhamdulillah, Tuhan melalui market telah mempertemukan gue dengan mereka. Kenapa gue girang?. Jelas, karena crew gue adalah orang-orang yang sekalipun gak bisa dipandang pintar dalam konsesnsus lingkungan akademisi, tapi kesediaan mereka buat kerja bersama gue dalam kondisi entitas yang kempis-kempis-kembang merupakan berkah gak berhingga. Mereka mau kerja dalam jam kerja yang panjang, capek, dan ngantuk dengan bayaran yang gak bisa dibilang banyak tapi dituntut tetap amanah. Merek-mereka inilah yang mengantarkan gue untuk lebih banyak mengucap sykur, gimana nggak, sebagian dari kita masih banyak yang ngeluh tentang hal-hal remeh, tapi orang-orang ini, crew yang lagi gue hadapin punya masalah yang bikin kita malu kalo kita ngeluh. Masalah orang-orang ini lebih kompleks, jauh lebih rumit dari pacar yang mutusin elu padahal tiap hari bilang sayang, lebih nyebelin dari Polisi yang dalihnya nilang tapi minta uang, lebih bikin galau dari beli hape baru atau sepatu baru, lebih miris dari gebetan yang tiba-tiba jadian sama temen sendiri. Sorry, gue gak bisa cerita detilnya, tapi sungguh, gue jadi mikir kalo kondisi kehidupan merekalah yang mendorong mereka bekerja seadanya, termasuk di Oldish, kondisi mereka yang demikian toh justru gak pernah mereka hadapin dengan keluhan, well, coba kalo kita, gue, elu, kalian. Mau makan siang aja ngeluh, duit habis buat seneng-seneng ngeluh, kerja lembur dikit ngeluh, terlalu banyak waktu yang gue, elu dan kalian semua habisin buat ngeluh, sementara ada jauh lebih banyak yang lebih pantas untuk disyukuri. Bersyukurlah. Bukannya kata Tuhan, akan ditambah nikmatNya apabila kita banyak-banyak bersyukur. Bersyukurlah.

Semua hal ini, seaneh dan seenggak nyaman apapun itu gue bersyukur. Pake banget. Sekalipun gaji gue gak sebanyak temen-temen seangkatan, tapi lingkungan gue kasih gue kado kesadaran yang gak habis-habis, bikin tiap hari mikir ‘Kok bisa ya?.’. Bukankah Imam Ghazali pernah ngomong “Hikmah adalah harta terbesar kaum muslim, hikmah bisa kalian temukan dimanapun, bahkan di dalam tong berisi ular (mulut orang-orang munafik).” Gue dapat itu tiap hari tanpa harus masuk ke dalam tong yang isinya ular.

 Omong-omong diksi ‘gue’ ini lebih enak dipake daripada ‘aku’ atau ‘saya’. Diksi ‘gue’ maqamnya nyaris sama kaya Jancuk rasanya. Wakakakakaka. Di dalam ‘gue’ seolah semua nuansa kalimat bisa masuk, obrolan serius nuansa santĂ© tetep dapet dan itu asik, obrolan santĂ© tetep gak kehilangan esensi isinya. Mirip Jancuk, kita ngomong serius dengan Jancuk, maka feel nya dapet dan makin mantep, ngobrol guyon dengan Jancuk, keakrabannya gak ilang, makin sedep malah. Ajaib yeee.. J

Karakter seseorang berdasarkan pada menu kopi pesanannya (Nyaris Fiksi, jangan percaya.)




Kurang lebih 6 bulan terakhir gue jadi lebih sensitif soal selera minuman kopi seseorang. Gue jadi perhatian banget. Mulai dari cara dia pesan kopi, cara bicaranya, cara mengaduk kopi, sampai pada pilihan kata dan idealisme yang dia bangun dan perspektifnya dengan keadaan sekitarnya (oke, gue mulai sok tahu). Sebagai owner, merangkap tukang cuci, pelayan, kasir, dan juru catat, naluri gue terbentuk. Pelayan prima jadi orientasi utama gue melampaui tetek bengek laba rugi. Berangakat dari sini, bakat kepo gue pun terasah. Obrolan-obrolan ringan dengan pelanggan dan basa-basi gak penting justru bikin gue punya kesempatan buat ngangkat hal-hal kecil tentang mereka berdasarkan observasi gue. Hehe.

 Sebelum masuk ke tema di atas gue pengen kasik tahu kalian dulu (berasa Barista) bahwa menu kopi dibagi menjadi dua keluarga besar, mereka adalah; Hard coffee (mirip-mirip genere film apa gitu *ngakak*) dan soft coffee. Hard Coffee sederhananya adalah biji kopi yang telah melalui proses roasting (penggorengan) yang kemudian ditumbuk dam diseduh dengan air panas. Ya, kopi tubruk yang kalian kenal adalah salah satu varian dari hard coffee, yang lainnya espresso, peresan bubuk kopi yang diminum tanpa gula jadiin hidup yang pahit makin kerasa pahit *becanda*, dan Americano, espresso yang diberikan tambahan air panas. Menu kopi tanpa campuran ini adalah menu hard coffee, citarasa kopi asli tanpa padu padan tambahan yang lain bagi sebagian penikmat kopi merupakan alasan yang membuat merka jatuh cinta. Nyaris menjadi candu
Jika hard coffee adalah kopi murni tanpa campuran, maka soft coffee adalah produk kreatifitas dari para pecintanya. Hasil perwujudan postmodernisme dalam dunia perkopian barang kali. Variannya banyak, mulai dari latte (kopi susu), mocca (kopi, susu, coklat), cappuccino (espresso dan susu panas yang dbuihkan), Frappucino (cappuccino dengan konsentrasi kopi yang lebih banyak) dan lain sebagainya. Soft coffee demikian dinamis, leih dinamis dari hard coffee. Jika untuk setiap cita rasa dan varian kopi yang baru hard coffee memerlukan waktu dan biaya yang relative banyak di dalam proses R and D nya maka soft coffe tidak demikian, padu padan bahan-bahan non kopi ke dalam kopi telah bsia memperkaya menu kopinya, sekalipun pada saat bersamaan sang kopi timbul tenggelam *halah*.

Kategori pertama, para pecinta hard coffee. Mereka yang menyukai kopi murni ini adalah para pecinta kebebasan. Obrolan-obrolan malam bersama adalah obrolan-obrolan panjang lalu-lalang tapi dalam tema besar yang konsisten. Ya, konsistensi ngikut bareng mendarah daging bagi para hard coffee dying ini. Mereka akan ngobrolin Capres A sampe Z, ngobrolin si Yudi dan si Andik dan apapun selama berjam-jam namun tetap dalam satu tema yang besar. Politik misalkan, Bola, atau hal-hal gak penting yang lain dan konsisten di tema itu. Para penikmat hard coffee ini tidak akan terima jika cita rasa kopi harus ditutupi dengan warna yang lain, entah gula, susu, kayu manis, atau coklat. Bagi mereka orisinalitas dari tiap partikel kopi adalah sesuatu yang layak mereka hargai dalam nilai berapapun. Mereka punya tataran nilai yang ideal tentang dunia, mereka akan menolak semena-mena nilai-nilai yang bagi mereka tidak sesuai.

Kategori kedua, soft coffee lovers. Para penikmat kopi jenis ini adalah mereka yang menjadi produk-produk pada masanya. Modern, easy going, dinamis. Mereka yang menyukai menu ini di dominasi oleh anak-anak muda. Penikmat soft coffee ini lebih sederhana sikapna. Mereka menikmati kopi bukan karena kopinya, tapi hanya sebagai pelengkap. Pelengkap makanan yang sedang mereka nikmati, pemanis dari sebagian hidup mereka yang pahit *hallah*. Berbeda dari hard coffee dying yang cenderung konservatif, soft coffee lovers lebih mudah beradaptasi dan menyesuaikan diri. Mereka bukan orang-orang yang rewel soal selera dan pergaulan. Soft coffee lovers sangat kekinian, pikiran mereka dipenuhi oleh informasi-informasi terupdate dan gaya hidup masa kini.

Yang terakhir, nicotine coffee. Gue sebut demikian karena golongan ini adalah mereka yang gak bisa menikmati kopi tanpa rokok. Ibaratnya kaya makan sup tanpa kuah. Gak lengkap dan aneh. Mereka yang gemar dengan padanan ini adalah orang-orang yang agak tidak konsisten dengan pilihan sikapnya bisa dibilang plin-plan. Rokok dan nikotin adalah padu padan yang paling meniadakan, cita rasa kopi yang sebenarnya justru akan tertutupi dengan nikotin. Alih-alih membuat kopi terasa nikmat, perokok yang mengopi sebenernya cuma minum asap.

Demikian ulasan fiktif gue tentang orang dan menu kopi mereka.

Senin, 17 Maret 2014

Our Place, Your Besties

Hai guys balik lagi sama kita ..Ayo ayo, siapa-siapa yang belum gabung ke sini silahkan datang. We serve you the best of us. Kita punya Pancake Karamel nih. Manis, hangat dan yah cukup bikin kenyang lah yaa...Only 10K you can find many various of pancakes.


Ragam kopi dari Indonesia. Kita punya Robusta dan Arabica dari banyak daerah di Indonesia. Feels the exotism guys.


 Mas Ricooo....Best part of this place.
 

Sabtu, 01 Februari 2014

Contact Us

Conact us on:

Twitter : @oldish_cafe
Email   : oldish.cafe@gmail.com
Phone  : 085733853696

Surabaya, Kota Terbaik Se-Dunia

                                                                 (http://holidayyuk.com)

Hai Guys, selamat malam, salam kenal. Kami pendatang baru di dunia lifestyle culinary di Surabaya atau yah sebut saja gampangnya Cafe lah ya..hehe. Kenalkan, kami Oldish Cafe, Officially Established at January 25, 2013 as an idea , Yap, karena secara fisik tempat kami sedang dibangun dan baru selesai sekitar pertengahan Februari, doain lancar yee..Amiin. Oiya karena baru gabung ke blog juga kita lagi ga ada bahan buat diomongin nih, hehe. Gimana kalo ngomongin Surabaya aja ya, kota di mana kami lahir, menghabiskan masa remaja, dewasa, menua dan mungkin mati (ceileee bonek die hard nih). Baik Surabaya yang saat ini dipimpin oleh Bu Risma merupakan Kota Terbesar kedua di Indonesia versi wartawan infotainment dan terbaik se-Dunia versi kami. Ya, terbaik se-Dunia, bukan subjektifitas loo..Kita punya alsan yang sangat teramat fundamental (ter-Vicky). Kita ngobrolin itu satu-satu.

1. Pertama: Kota Sejuta Taman.

Kami sudah keliling ke Beberapa tempat di Indonesia, mulai dari Lombok yang eksotik, Jakarta yang cuek, Balikpapan yang kaya minyak, dan Jogja yang nyaman itu, gak pernah kami lihat kota dengan taman kota sebanyak Surabaya. Taman pelangi, taman bungkul, taman gunungsari, dan banyak taman-taman kecil lain di setiap sudut kota. Paradigma go green benar-benar diaplikasikan di sini, secara mungkin Surabaya juga kotanya Bajul Ijo, si green force yang disegani itu..wehehehe. Tak ayal kota ini banyak mendapat pujian bahkan di dunia Internasional (Mbois ga rek?). Penghargaan itu seperti The 2013 Asean Townscape Awards (ATA) dan  Future Government (FutureGov) Awards 2013. So Guys, you must visit this town soon!. Gambar taman-taman kotanya nih:


                                                       (gambar comot di google gan..hehe)

2. Low Living Cost with High Quality Life Style

Ada sebuah paradigma umum yang ada di masyarakat bahwa harga mencerminkan kualitas, atau dalam prokem slank di bahasa kami onok rego, onok rupo. Di Surabaya hal itu ketemu nadirnya #tsaaah, ya, di sini kalian bisa mendapatkan barang-barang bagus, pendidikan bagus, makanan enak, tempat tinggal nyaman, pilihan yang beragam dengan harga murah. Pengen cari barang-brang teknologi?, nongkrong aja di Hi-Tech Mall, mau barang antik? cari aja di Sepanjang atau Gembong, pengen cari buku-buku kuliah murah? Jl. Semarang dan Blauran tempatnya, Baju?, Pasar Turi, PGS ada banyak, Makanan?, laaaah...Tuh di pinggir jalan makan sekenyangnya, Kampus?, ITS, Unair, Unesa, UIN Sunan Ampel, pilih dan semua terjangkau dengan kualitas terjamin.

3. Jancuk is the 'Word's' of my Country.

                                   (http://vanzimi.files.wordpress.com/2012/09/648095930.jpg)

Ini agak ekstrim, kami ngomongin Jancuk, ya Jancuk yang mungkin hanya kalian temukan memiliki makna yang sangat-sangat positif cuma ada di tanah kelahirannya (meskipun tidak ada yang tahu siapa bapak/ ibunya..hehe), di sini Surabaya. Bagi sebagian orang Jancuk merupakan kata-kata yang tidak sopan, namun bagi sebagian besar komunitas kami Jancuk memiliki makna yang amat jauh berbeda. Jancuk adalah simbol persaudaraan, filosofi arek-arek Suroboyo adalah Ora onok wong Liyo (Artinya: Tidak ada orang lain) karena setiap orang bagi kami adalah saudara dan Jancuk adalah ekspresi kedekatan antara kami, kalian tidak akan melihat kami mengatakan Jancuk kepada orang asing. Jancuk bagi kami adalah refleksi sisi emosional kami, ekspresi kelugasan terhadap pandangan dan rasa kami pada banyak hal, budaya baru, pendatang, perubahan, hegemoni. Segala rasa, segala nalar, entah kenapa di dalam otak primitif kami semua melebur di dalam satu kata: Jancuk. Ya, Jancuk as a word has reflected us well (ini kenapa jadi berat ngomongin Jancuk -_-" ). 

Well, 3 hal di atas adalah komponen-komponen paling mendasar mengapa kami menyebut Surabaya sebagai kota terbaik se-dunia meskipun agak gak nyambung juga sih..hehhe. Yah pokoknya kalian tahu lah kenapa kami sangat Surabaya Die Hard banget. Happy Visit Surabay guys, enjoy your night, keep everything tight.