Selasa, 26 Agustus 2014

Dear you (part 2)



Kalo kemarin gue udah ngegombal soal syukur, nikmat dan berbagi. Sekarang gue mau ngegombal lagi soal yang lain. Soal kesatuan. Unity. Tentang integrasi dari segala-galanya *sok*. Oldish, seperti yang udah gue certain kemarin, udah jadi pintu ajaib doraemon bagi gue. Dia bisa bawa gue kepada kesadaran apapun yang gue mau. Membawa gue pada bentuk nikmat manapun yang gue pengen cicip, dan kali ini Oldish membawa gue kepada wilayah kesadaran yang lain lagi. Tentang ‘kita’.
Sering gue mikir kalau Oldish itu punya gue, kalau harta gue itu punya gue, kalau gue itu ya gue, punya gue, orang lain gak perlu ikut-ikutan. Kalian juga sering gak ngerasa gitu?. Ngerasa yang paling ‘gue’. Nah, beberapa hari ini gue kepikiran kalau itu semua keliru. Gue ngerasa kalau ternyata bahkan kita ini bukan siapa-siapa dan yang kita anggap milik kita itu sebenernya bukan. Meminjam kata-kata Dosen gue, we just nobody.

Alkisah, Oldish yang lagi gue usahain biar cepat gede tapi disapih ini lagi ngalamin puncak kegalauan omzet yang cukup panjang (broo dalam skala industri mikro, 2 bulan itu bagai 2 tahun, belum lagi kalau telepon kalian berdering panggilan dari Debt Collector itu lebih bikin deg-degan daripada nunggu jawaban gebetan yang kalian tembak. Beneran.). Diantara puncak kegalauan ini, dengan segala daya yang sudah temen gue dan gue lakuin kita nyerah, ya! NYERAH. Kaya pasangan ABG labil yang mau ngebuang bayi hasil zina mereka, seperti itu kami ingin memperlakukan Oldish. Meninggalkannya begitu saja, membiarkan pasar dengan segala kehendaknya memperlakukannya. Langkah kami  gontai, pintu ruko yang biasanya kami tarik dengan semangat tak demikian lagi (sebelumnya seret, sekarang udah dikasih oli, udah karena itu). Jam-jam panjang yang kami penuhi demi pertumbuhan omzet yang positif tak lagi berlaku. Pasar terlalu tangguh. Namun, ‘pengabaian’ kami kepada Oldish tak berjalan linier, Oldish seolah memiliki jalannya sendiri, pasar berkehendak lain. Sudah gue cerita soal crew gue sebelumnya kan?. Kami pernah bekerja tanpa awak selama sebulan, dalam kondisi yang kempis-kempis-kempis-kembang itu doi datang, menawarkan diri. “Gue mau mas kerja di sini, gue bantu.” Dan bener dia “bantu”, pengalaman bertahun-tahun di bidang life style culinary itu dia jual murah kepada kami. Temen gue dan gue yang gak melihat kesempatan yang lebih baik dari itu memutuskan menerimanya. Hm, rasanya ibarat kalian cowok mediocre di kampus tapi tiba-tiba Raline Shah ngajak pacaran, kaya gitu rasanya. Bisnis ngesot perlahan, laba bersih tetap minus, namun omzet mengalami perubahan. Oldish nampak lebih bergairah, kami turut bahagia. Dan seperti kata Rosulullah “Sembilan dari sepuluh jalan rezeki adalah berniaga.” Satu pintu rezeki sedang terbuka, ada satu lagi yang sedang menunggu dibuka kuncinya. Komunitas orang motor tak diminta datang mmenawarkan diri memberi bantuan entah wacana entah keseriusan, kami hanya berserah pada Tangan-Tangan itu. Bisnis mengambil bargain option kali ini. Aneh bin Absurd.

Absurd guys, beneran. Sementara Om Mario Teguh ngomong “Bekerjalah dengan sungguh-sungguh, dengan jujur dan bla bla.” , Bang Rene sampein “Passion akan menjadikan kalian blab la bla.” Dan Pak Dahlan berpesan “Kerja Kerja Kerja.” . Turning Point  kami (Insya Allah) justru muncul di tikungan paling tajam, di titik paling rawan, di momen yang paling enggan. Aneh. Dari situ gue mikir kalau sebenernya apa yang temen gue dan gue lakukan ini hanyalah sekedar ngikutin arus, ngikutin fitrah. Sebuah consensus semesta nan gaib yang gue gak sanggup pahami. Gue nggak paham, banyak usaha pemasaran dan perubahan menu dan harga udah kami lakukan tapi momen yang ditunggu gak datang. Banyak hal yang temen gue udah usahakan dan gak pernah kami sanggup memilah mana yang paling efektif untuk membawa Oldish kepada kondisi yang lebih baik,  dan ditengah keengganan kami diantara segala ketidaktahuan yang sulit kami pahami ini, justru di titik kritis dimana kami nyaris tidak melakukan apa-apa perubahan mulai datang (semoga). Segala fenomena ‘gaib’ ini bikin gue jadi sadar bahwa di dalam segitiga absurd ini, kami-Oldish-pasar, kami yang konon katanya owner ini ternyata bukan siapa-siapa. Apanya yang owner?, sementara waktu, tenaga, dan pikiran kami justru yang tercurah kepada Oldish, bukan sebaliknya. Kami yang justru telah dimiliki olehnya. 

Oldish, merupakan entitas yang independen, di dalam lingkup ekosistemnya, gue dan temen gue hanya jadi salah satu penggerak yang hidup bersama di dalam ekosistemnya. Sama sekali bukan yang memilikinya. Pasarlah pemiliknya. Kami hanya berperan, menjalani fitrah kami sebagaimana mestinya, gak lebih, dan ekosistem memiliki jalan ceritanya sendiri, bergerak sesuai kehendakNya.
Di dalam sebuah ekosistem kolam yang di dalamnya ada Ikan, Udang, Lumut, dan Batu bisa kalian tentukan siapa memiliki siapa?. Apakah Ikan memiliki kolam?, sementara tanpa kolam ikan mati. Apakah lumut memiliki ikan?, sementara ikan adalah organism yang memakannya. Nah, hal inilah yang kemudian juga membuat gue sadar bahwa di dalam semesta yang luasnya teramat ini, gue bukan siapa-siapa, kita ini bukan siapa-siapa. Kita Cuma entitas kecil yang kemudian secara bersama-sama dan dengan cara-Nya membentuk sebuah kesatuan Masyarakat, Bangsa, Negara dll. Apakah Masyarakat memiliki gue?, apakah Negara memiliki gue?, atau gue yang memiliki mereka?. Menurut gue, ya gue ini bukanlah siapa-siapa, bukan apa, gue hanya bagian kecil dari semua itu yang sedang memenuhi perannya, bergerak dan hidup sesuai kodratNya. Gue Cuma bagian dari Kita, yang tanpa gue pun Kita akan tetap ada *bingung deh* Kepribadian ini, karakter kita ini, hanya sebatas refleksi dari ribuan karakter yang hidup bersama kita. Harta yang ditangan kita, Cuma seperti mobil-mobil di jalan raya yang lalu lalang sesukanya dan kita adalah jalan yang dilaluinya, adakah jalan raya menjadi pemilik mobil yang melintasi mereka?.
Oke, demikian gombalan gue, Hanya Dia Yang Maha Tahu. J

0 komentar:

Posting Komentar